Kata mereka, dua kata itu terdengar indah kala jatuh berderai dari bibir orang terkasih.

Masih juga kata mereka, bisikan ‘aku cinta kamu’ yang tertutur manis dari orang yang dicintai amatlah membuai hati.

Namun bagi Ranting, satu kalimat pendek itu terdengar kembar layaknya caci maki yang diumbar.

Dan masih juga bagi Ranting, ‘aku cinta kamu’ seharmoni dengan muntahan kutuk ‘mati saja kau’.

Tapi, bisik Ranting, binar di matanya lah yang melantunkan dua kata itu, memandu hatiku untuk menari bersama.

Dan masih juga bisik Ranting, hangat kasihnya yang membalut setiap peluk lah yang menyenandungkan ‘aku cinta kamu’ ke seluruh semesta akalku.

—-

“…yakin, Tom?”

Tombak mengangguk mantap.

“…tapi, Ranting kan..”

Tombak tidak mengubah keputusannya.

Tidak ada makhluk yang sempurna.

Ia tetap akan menikahi Ranting walau calon istrinya itu mengidap tuli permanen.

Tagged with:
 

–untuk #15HariNgeblogFF, hari kelimabelas.

Selamat ya, Bu.

Rencanamu mengikat dia dengan menggunakan aku ternyata berhasil, gumam janin di dalam rahim perempuan itu.

Tagged with:
 

–untuk #15HariNgeblogFF, hari keempatbelas.

“PASIR!! Kalau kamu terus berakting seperti sampah, saya bersumpah drama ini akan menjadi judul terakhir dalam karir kamu! Keluar kamu! SEKARANG!!” pekik Nyonya Semilir.

Pasir terhenyak.

Dengan ketakutan dan terisak-isak ia berlari menuju kamar ganti.

Pasir akhirnya terduduk di depan cermin mejanya, menatap rias wajahnya yang luntur akibat air mata.

Semua terasa begitu absurd.

Buih.

Dalam sekejap, aktris bau kencur itu merampas segalanya darinya.

Perhatian Nyonya Semilir, peran utama, bahkan sepasang mata teduh milik Ombak berhasil dipikat olehnya.

Aku bersumpah, drama ini bukan judul terakhirku. Buih harus kulenyapkan. Drama indah ini hanya milikku seorang, dan tidak boleh berakhir.

Kakak yakin?

Pasir terkesiap.

Cermin di depannya tidak lagi memantulkan bayangannya, melainkan sosok anak perempuan kecil berbaju pelaut. Kepalanya tertunduk.

Aku bisa menolong Kakak melenyapkan perempuan jalang itu. Aku juga akan membantu agar drama ini tidak pernah berakhir sebagai judul terakhir Kakak.

Anak dalam cermin itu mendongakkan kepalanya. Matanya bolong.

Pasir ingin berteriak, namun jeritannya teredam oleh tawaran anak perempuan itu.

Anak itu tersenyum, memerlihatkan sederetan gigi runcing berwarna darah.

Goreskan jepit rambut ini di meja rias perempuan jalang itu, lalu ucapkan: “Ini semua adalah milikku, dan tak boleh berakhir.”

Pasir mengambil jepit rambut hitam kecil yang terdorong keluar dari cermin di depannya.

Ia melangkahkan kakinya menuju meja rias Buih, bersiap melaksanakan perintah anak dalam cermin itu.

“Ini semua adalah milikku, dan tak boleh berakhir,” bisik Pasir.

Ia menorehkan satu goresan.

Keesokan harinya, Pasir mendapat kabar bahwa Buih mati kecelakaan.

Peran utama kembali ke pelukannya, perhatian Nyonya Semilir kembali terpusat kepadanya, tatapan mata teduh Ombak kembali menjadi miliknya.

Pasir tertawa puas. Segalanya sempurna. Semua telah menjadi kepunyaannya.

Drama ini tidak akan menjadi judul terakhirnya. Pasir tidak mengizinkan semua keindahan ini berakhir.

Ah, Kakak. Drama ini tidak akan menjadi judul terakhir Kakak, karena memang drama ini tidak akan pernah berakhir… seperti keinginan Kakak.

Pasir terbelalak.

Anak perempuan berbaju pelaut itu kembali muncul di cerminnya.

Semua sudah terlambat, Kak Pasir.

Pasir lari keluar. Berusaha menghindari sosok anak bermata bolong itu.

“Ada apa, Pasir?”

Pasir terkejut.

Mendadak Buih muncul di sebelahnya. Menyapanya. Bersiap-siap berlatih peran utama yang seharusnya dilakoni Pasir. Dipuji oleh Nyonya Semilir yang baru saja memuja Pasir. Ditatap mesra oleh sepasang mata Ombak yang semestinya terkunci pada Pasir.

“PASIR!! Kalau kamu terus berakting seperti sampah, saya bersumpah drama ini akan menjadi judul terakhir dalam karir kamu! Keluar kamu! SEKARANG!!” pekik Nyonya Semilir.

Pasir terhenyak.

Dengan ketakutan dan terisak-isak ia berlari menuju kamar ganti.

Pasir akhirnya terduduk di depan cermin mejanya, menatap rias wajahnya yang luntur ———————————–

——————————————————–dan seterusnya————————–

———————————————————————————————————————————————–

Tagged with:
 

–untuk #15HariNgeblogFF, hari ketigabelas.

Odol sedang merenung di dalam tube-nya.

“Kalau gue lagi jatuh cinta…”

Kalimatnya terputus.

Tersentak mendengar kalimat Odol, Sikat Gigi memutuskan untuk mencuri
dengar. Bulu-bulu sikatnya menegang.

“Mungkin nggak sih gue jatuh cinta?”

Sikat Gigi mulai mencondongkan batang tubuhnya yang berwarna merah jambu.

“Hmm.. Mungkin apa nggaknya kan tergantung gue jatuh cinta sama apa kan, ya?”

Sikat Gigi manggut-manggut. Hatinya mulai kalut.

“Mungkin nggak ya gue jatuh cinta sama Si Seri? Dia sih oke banget, barisan depan pastinya harus eksis dong. Putih, mulus, wuih. Tapi high maintenance cuy! Lagipula Seri kan udah jadian sama Taring. Beling aja ancur ama dia, apalagi gue! Nope. Bad idea.

“Kalo Lidah.. males ah. Tukang main. Hobinya mbelit sana sini. Waktu itu sama Geraham, ngakunya sih suka sama yang dewasa gitu. Sabar, rendah hati, nggak mau mencolok. Eh taunya kepincut juga sama si Pipi. Alasannya, Pipi itu lucu, chubby, tipenya dia banget deh. Tapi sekarang? Malah klepek-klepek gara-gara Bibir, makhluk paling seksi seantero mulut.”

Tanpa sadar, pangkal leher Sikat Gigi yang bertipe fleksibel itu mulai tertekuk.

“Mmm.. Lidah Kecil.. manis sih. Imut gitu. Tapi males ah. Jauh banget, ngga kenal.”

Oh… jadi dia sukanya sama yang cantik seksi gitu ya. Wajar sih, dia kan keren
banget.. Warnanya gradasi biru laut dan biru langit, aromanya segar, tubuhnya
halus, disayangi para Gigi… Sikat Gigi mana sih yang ngga bakal naksir sama high quality Odol kayak dia?

Sikat Gigi mulai pusing, terpuntir dalam kalimatnya sendiri.

“…lagipula… Sikat Gigi.. dari dulu…”

Eh?

Tunggu.

Odol ngomongin aku?

Bulu-bulu sikatnya mendadak kaku.

“…gue…”

BRAK!

Pemilik mereka mendadak masuk, bersiap mempertemukan mereka.

Bulu-bulu Sikat Gigi meremang.

“Mungkin nggak sih ada Odol yang nggak jatuh cinta sama Sikat Gigi yang satu ini? Setia, nggak rewel, tahan banting, malu-malu manis, warnanya hot pink, lembut…”

Kata-kata Odol yang semakin nyaring nyaris membuat Sikat Gigi mencabuti bulu-bulunya sendiri.

“Nah, kalau gue jatuh cinta sama yang ini… kira-kira dia jatuh cinta juga nggak ya sama gue?”

Manusia itu membuka tutup Odol (yang sedang tersenyum lebar), menempelkannya ke Sikat Gigi (yang sedang tersenyum sumringah) lalu mulai membersihkan rongga mulutnya (yang sedang bergembira menyambut sang pasangan baru).

Tagged with:
 

–untuk #15HariNgeblogFF, hari keduabelas.

Kamu tahu kenapa aku menyukai hari Senin?

Karena hanya di hari ini aku selalu menerima kartu pos darimu.

Pak Pos, sang pengantar setia puluhan kartu pos itu, akhirnya mulai tak rela hanya menjadi saksi bisu.

“Seru-seru banget ya kayaknya,” komentarnya sambil tertawa.

Aku pun balas tertawa. Tawa yang dilapisi selaput lengket berlabel rindu.

Kali ini kamu mengirimiku foto skydiving.

Minggu lalu, bungee jumping.

Dua minggu lalu, paragliding.

Bulan lalu, BASE jumping.

Tahun lalu, roller coaster.

Tapi Senin kali ini berbeda.

Tak ada Pak Pos. Tak ada kartu pos.

Tapi ada kamu.

Aku tahu, seharusnya aku menyambutmu dengan pelukan dan kecupan, tapi yang tersembur dari mulutku ketika melihatmu adalah,

“Kamu ternyata punya hobi olahraga ekstrim ya?”

Tawamu menyejukkan gendang telingaku.

“Seru kan?”

“Masak sih?” tanyaku sambil memelukmu.

“Beneran! Serunya sama kayak waktu lagi kangen sama kamu,” bisikmu sambil mengecup lembut pipiku.

Jadi pengen main bungee jumping lagi..

 

Tagged with: