<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Somnia Memorias &#187; Writings</title>
	<atom:link href="http://somniamemorias.com/category/writings/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://somniamemorias.com</link>
	<description>cocktails in my life</description>
	<lastBuildDate>Tue, 06 Mar 2012 07:00:56 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	 
		<item>
		<title>No Matter What</title>
		<link>http://somniamemorias.com/2012/03/06/no-matter-what/</link>
		<comments>http://somniamemorias.com/2012/03/06/no-matter-what/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Mar 2012 06:51:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Melissa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Writings]]></category>
		<category><![CDATA[quotes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://somniamemorias.com/?p=1214</guid>
		<description><![CDATA[<p>That&#8217;s right&#8230;</p> <p>Even if there is 0% chance of winning&#8230;</p> <p>I can&#8217;t give up in this kind of situation.</p> <p style="text-align: right;">Then go ahead and get yourself killed.</p> <p style="text-align: right;">In return, no matter how many times you get knocked back here,</p> <p style="text-align: right;">I&#8217;ll be there to catch you.</p> <p style="text-align: right;"> <p>&#160;</p> <p [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>That&#8217;s right&#8230;</p>
<p>Even if there is 0% chance of winning&#8230;</p>
<p>I can&#8217;t give up in this kind of situation.</p>
<p style="text-align: right;">Then go ahead and get yourself killed.</p>
<p style="text-align: right;">In return, no matter how many times you get knocked back here,</p>
<p style="text-align: right;">I&#8217;ll be there to catch you.</p>
<p style="text-align: right;">
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: left;"><span style="color: #888888;"><em>Kawamura &#8211; Akutsu, </em></span><span style="color: #888888;"><a href="http://www.goodmanga.net/prince_of_tennis/chapter/331" target="_blank">TeniPuri Ch. 331</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://somniamemorias.com/2012/03/06/no-matter-what/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Aku Lupa Bagaimana Caranya Tertawa</title>
		<link>http://somniamemorias.com/2012/02/18/ketika-aku-lupa-bagaimana-caranya-tertawa/</link>
		<comments>http://somniamemorias.com/2012/02/18/ketika-aku-lupa-bagaimana-caranya-tertawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Feb 2012 14:20:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Melissa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Writings]]></category>
		<category><![CDATA[#ForYoungerMe]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian]]></category>
		<category><![CDATA[thoughts]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://somniamemorias.com/?p=1183</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: right;">&#8211;untuk diikutsertakan dalam <a href="http://15haringeblogff.wordpress.com/foryoungerme/" target="_blank">#ForYoungerMe</a></p> <p>Untuk Aku</p> <p>Di Masa Lalu.</p> <p>Kata orang, masa lalu itu relatif.</p> <p>Mungkin seharusnya aku menulis surat untuk diriku di TK, SD, SMP, SMU, kuliah atau tahun-tahun awal kerja misalnya.</p> <p>Atau untuk diriku di usia tertentu.</p> <p>Tapi aku setuju dengan kata orang, masa lalu itu relatif.</p> <p>Aku yang mengetikkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><em>&#8211;untuk diikutsertakan dalam <a href="http://15haringeblogff.wordpress.com/foryoungerme/" target="_blank">#ForYoungerMe</a></em></p>
<p><strong>Untuk Aku</strong></p>
<p><strong>Di Masa Lalu.</strong></p>
<p>Kata orang, masa lalu itu relatif.</p>
<p>Mungkin seharusnya aku menulis surat untuk diriku di TK, SD, SMP, SMU, kuliah atau tahun-tahun awal kerja misalnya.</p>
<p>Atau untuk diriku di usia tertentu.</p>
<p>Tapi aku setuju dengan kata orang, masa lalu itu relatif.</p>
<p>Aku yang mengetikkan huruf pertama tulisan ini termasuk aku di masa lalu.</p>
<p>Surat ini kualamatkan kepadaku, di masa lalu, di usia berapa pun.</p>
<p>Mungkin sedikit lucu kalau nostalgia justru melemparmu ke masa depan.</p>
<p>Dirimu di masa lalu yang dipenuhi angan masa depan, dan diriku di masa kini<br />
yang terhimpit dua masa, lalu diri kita di masa mendatang yang seharusnya<br />
merupakan manifestasi impianmu di masa lalu.</p>
<p>Kau nikmati sekelilingmu, keluarga dan teman yang setia menemani langkah<br />
kakimu ke mana pun kau putuskan untuk menancap jejak.</p>
<p>Ingin rasanya kau ciptakan sebuah pulau besar berisi mereka semua.</p>
<p>Berisi segalanya yang sempurna menurut mereka.</p>
<p>Gedung pencakar langit untuk ayah, adik dan teman-teman bekerja, rumah<br />
mewah untuk menampung seluruh keluarga, rumah sakit besar untuk para<br />
sejawatmu jika kamu berhasil jadi dokter suatu hari nanti.</p>
<p>Akan kau penuhi pulau itu dengan segala kemewahan yang dapat ditawarkan<br />
oleh dunia.</p>
<p>Seandainya kamu bisa menculik semua sahabatmu, akan kau tempatkan mereka<br />
dalam pulau sempurna di mana satu-satunya cara untuk mati adalah sambil<br />
tertawa bahagia.</p>
<p>Tapi seluruh pemikiran kekanakan itu tentu saja ditulis ulang oleh kenyataan<br />
tanpa seizinmu.</p>
<p>Kamu yang mulai sadar bahwa orangtuamu yang hangat tak mungkin<br />
menghabiskan lebih dari 50 tahun lagi bersamamu.</p>
<p>Semua saudara dan sahabat yang melangkah ke segala penjuru dunia tanpamu,<br />
meski mata dan hati mereka tak pernah lupa untuk setia padamu.</p>
<p>Mungkin, mungkin ide pulau sempurna itu merupakan ide paling brilian yang<br />
pernah kamu tetaskan di masa lalu.</p>
<p>Dulu kamu pikir, kamu harus cepat.</p>
<p>Sebelum kenyataan benar-benar menghisap mereka.</p>
<p>Menempatkan mereka bersamamu sebelum kita sadar hidup itu tidak mudah.</p>
<p>Bercanda tentang hal-hal konyol bersama mereka sebelum yang mereka<br />
perjuangkan dalam hidup hanyalah uang dan kekuasaan.</p>
<p>Kamu harus cepat, sebelum kamu dan mereka akhirnya lupa bagaimana caranya<br />
bergembira.</p>
<p>Sebelum mereka, yang dulu tak pernah kenal kata menyerah, akhirnya kalah<br />
tangguh melawan dunia.</p>
<p>Kamu harus segera mengumpulkan mereka ke dalam pulau besar itu, sebelum<br />
masa lalu milikmu tergilas realita.</p>
<p>Tapi itu dulu. Dulu sekali.</p>
<p>Kini, cetakbiru pulau besar sempurnamu itu perlahan mulai kabur dan<br />
berantakan dicoreti kenyataan.</p>
<p>Dulu, kenyataan merupakan musuh terbesar. Lawan yang tak mungkin<br />
sanggup kau kalahkan.</p>
<p>Kamu marah. Tidak setuju dengan cetakbiru yang ditawarkan oleh kenyataan.<br />
Kamu ingin merobek-robeknya, bahkan mencoba menculiknya ke dalam Pulau<br />
Besar Sempurna agar ia paham bahwa cetakbirumu lah yang paling benar.</p>
<p>Tapi kamu adalah gadis yang hidup di dunia. Makhluk yang tak pernah putus<br />
untuk bertukar senyawa dengannya. Kamu harus sudi berbagi ruang dengan<br />
kenyataan.</p>
<p>Dulu, kamu bilang kenyataan bukanlah lawan yang sepadan. Namun dulu juga,<br />
entah mengapa, kamu akhirnya mengakui bahwa ia bukan lawan, namun teman.</p>
<p>Dulu, kamu katakan kepadaku, di usia berapa pun aku berada di masa depan,<br />
Pulau Besar Sempurna milikmu itu tidak akan pernah ada jika aku tidak<br />
menggandeng kenyataan dan mengajaknya untuk ikut menggoreskan hidup.</p>
<p>Dulu, kamu berjanji untuk selalu ingat, di masa mana pun kamu berada,<br />
kenyataan adalah teman untuk bertumbuh bersama. Teman yang memberimu<br />
kesempatan, teman tempat menitipkan keluarga dan sahabat, dan<br />
teman yang menghadirkan impian.</p>
<p>Kini, aku ingin mengatakan kepadamu, meski tidak seutopis masa lalu, Pulau<br />
Besar Sempurnamu masih ada (dan semoga akan selalu ada).</p>
<p>Kuharap kamu bersedia mengingatkan kembali saat aku mulai lupa bagaimana<br />
cara untuk tertawa, mulai lupa untuk terus menggandeng kenyataan, dan mulai<br />
lupa dengan Pulau Besar Sempurna kita.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://somniamemorias.com/2012/02/18/ketika-aku-lupa-bagaimana-caranya-tertawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dormant</title>
		<link>http://somniamemorias.com/2012/02/11/dormant/</link>
		<comments>http://somniamemorias.com/2012/02/11/dormant/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 15:48:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Melissa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Writings]]></category>
		<category><![CDATA[quotes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://somniamemorias.com/?p=1176</guid>
		<description><![CDATA[<p>Wish, wish</p> <p>One is enough.</p> <p>Please, please</p> <p>let this love be granted.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wish, wish</p>
<p>One is enough.</p>
<p>Please, please</p>
<p>let this love be granted.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://somniamemorias.com/2012/02/11/dormant/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>No</title>
		<link>http://somniamemorias.com/2012/02/02/no/</link>
		<comments>http://somniamemorias.com/2012/02/02/no/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 17:17:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Melissa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Writings]]></category>
		<category><![CDATA[quotes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://somniamemorias.com/?p=1160</guid>
		<description><![CDATA[<p>No&#8230;</p> <p>Not &#8220;liked&#8221;.</p> <p>I like you. Even now.</p> <p>&#160;</p> <p>I always have.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>No&#8230;</p>
<p>Not &#8220;liked&#8221;.</p>
<p>I like you. Even now.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>I always have.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://somniamemorias.com/2012/02/02/no/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kopi Tubruk</title>
		<link>http://somniamemorias.com/2012/01/29/kopi-tubruk/</link>
		<comments>http://somniamemorias.com/2012/01/29/kopi-tubruk/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 13:01:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Melissa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Writings]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://somniamemorias.com/?p=1132</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: right;">&#8211;pesanan khusus dari <a href="https://twitter.com/#!/momo_DM" target="_blank">@momo_DM</a> </p> <p>Kopi.</p> <p>Kamu benci kopi.</p> <p>Apalagi kopi tubruk.</p> <p>Kopi abang-abang tukang nongkrong di pojok sambil ngerokok. Jorok.</p> <p>Kamu memandangi cangkir putih berisi cairan hitam yang mengepulkan asap abu-abu itu.</p> <p>Kagum terhadap usahanya untuk tampil jinak tanpa dosa.</p> <p>Tapi melihatnya tersaji dalam rupa monokromatis yang selalu kamu puja, rasa bersalah mulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><em>&#8211;pesanan khusus dari <a href="https://twitter.com/#!/momo_DM" target="_blank">@momo_DM</a> </em></p>
<p>Kopi.</p>
<p>Kamu benci kopi.</p>
<p>Apalagi kopi tubruk.</p>
<p>Kopi abang-abang tukang nongkrong di pojok sambil ngerokok. Jorok.</p>
<p>Kamu memandangi cangkir putih berisi cairan hitam yang mengepulkan asap abu-abu itu.</p>
<p>Kagum terhadap usahanya untuk tampil jinak tanpa dosa.</p>
<p>Tapi melihatnya tersaji dalam rupa monokromatis yang selalu kamu puja, rasa bersalah mulai merayapi dirimu karena menganggapnya kopi kelas kampung.</p>
<p>Kamu menarik napas dalam-dalam, seolah bersiap menutup hidung lalu menceburkan diri ke dalam cangkir itu.</p>
<p>Tapi yang bisa kamu lakukan hanyalah mencemplungkan pandanganmu dan membiarkannya timbul tenggelam, memaksamu mengais sedikit bijak yang mungkin masih mengendap.</p>
<p>Ada berapa falsafah yang bisa kamu tarik dari secangkir kopi tubruk?</p>
<p>Mendadak kamu sudah menggandeng seluruh pancaindramu untuk membuka Diskusi Kopi Tubruk.</p>
<p>Mencoba menelaah sebuah materi yang sebagian jelas kamu benci, sebagian lagi entah kenapa kamu puji.</p>
<p>Kebencianmu terhadap aromanya, rasanya, namanya.</p>
<p>Ketakjubanmu terhadap pekatnya, efeknya, popularitasnya.</p>
<p>Sebuah hitam yang tertampung dalam putih yang kemudian menguapkan kelabu.</p>
<p>Di hadapanmu, cangkir itu mulai mengambil wujud mahaguru yang mengajarimu tentang energi.</p>
<p>Padatnya cangkir, cairnya kopi dan gas aroma yang telah mufakat untuk menyebut dirinya Kopi Tubruk.</p>
<p>Putih pertanda ia tak berbahaya, sekaligus hitam pertanda ia <em>bisa</em> berbahaya.</p>
<p>Kamu tertawa, menyadari pikiranmu mengelabu akibat menghirup si kopi tubruk.</p>
<p>Kopi tubruk itu sangat hitam di depan matamu.</p>
<p>Tapi ia bukan <em>cuma</em> hitam.</p>
<p>Ia hitam justru karena ada putih dan kelabu yang menemaninya.</p>
<p>Kamu menggosok-gosok kedua matamu, menolak dikuasai oleh <em>&#8216;cuma hitam</em>&#8216;-nya kopi tubruk.</p>
<p>Ada Putih. Ada Kelabu. Hitam tidak sendiri.</p>
<p>Kenapa kamu hanya memilih untuk selalu melihat Hitam?</p>
<p>Akhirnya kamu mengambil cangkir itu, menenggak habis Sang Mahaguru yang masih asyik mendemonstrasikan hukum kekekalan energi.</p>
<p>Kamu pamit, terkejut ketika hanya perlu membayar tiga ribu perak untuk secangkir semesta, lalu bergegas pergi meninggalkan warung pinggiran itu.</p>
<p>Kamu menarik keluar kertas yang terlipat rapi di saku kemejamu, mencoba membaca ulang kata-kata yang tadinya kau tulis dalam Hitam.</p>
<blockquote><p>&#8220;Aku harus pergi, hidup tak ada gunanya lagi bagiku. Maafkan aku.</p>
<p>Selamat tinggal.&#8221;</p></blockquote>
<p>Kali ini kamu ingin membacanya dalam Putih, memahaminya bersama Kelabu.</p>
<p>Namun mendadak kamu mendengar impuls pengirim sinyal dimulainya rencana Hitam-mu.</p>
<p>Gemuruh mesin pengangkut manusia dalam rupa ular naga mulai menggetarkan atap plastik biru warung pinggiran itu.</p>
<p>Kamu menunggu.</p>
<p>Diam menanti dalam Putih dan Kelabu.</p>
<p>Beberapa detik lagi mesin itu akan berada di depanmu.</p>
<p>Kamu bersiap, lalu melemparkannya tepat ketika angin malam yang dihempas mesin ular naga itu mulai menghantam tubuhmu.</p>
<p>Hingga ketika deru laju itu semakin menghilang, kamu mulai berjalan menjauhi warung pinggiran si penjual akal sehat.</p>
<p>Tak lagi kamu pedulikan kertas pengganti ragamu yang baru saja kamu lempar.</p>
<p>Bersama dengan senyum yang terulas, kamu mengemas syukur kepada-Nya.</p>
<p>Kamu berlari pulang, bercanda ria dengan langit hitam berhiaskan bintang putih dan bulan kelabu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://somniamemorias.com/2012/01/29/kopi-tubruk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menikahlah Denganku</title>
		<link>http://somniamemorias.com/2012/01/26/menikahlah-denganku/</link>
		<comments>http://somniamemorias.com/2012/01/26/menikahlah-denganku/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 14:30:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Melissa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Writings]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariNgeblogFF]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://somniamemorias.com/?p=1105</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: right;">–untuk <a href="http://celotehwangi.wordpress.com/15haringeblogff/" target="_blank">#15HariNgeblogFF</a>, hari kelimabelas.</p> <p>Kata mereka, dua kata itu terdengar indah kala jatuh berderai dari bibir orang terkasih.</p> <p>Masih juga kata mereka, bisikan &#8216;aku cinta kamu&#8217; yang tertutur manis dari orang yang dicintai amatlah membuai hati.</p> <p>Namun bagi Ranting, satu kalimat pendek itu terdengar kembar layaknya caci maki yang diumbar.</p> <p>Dan masih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><em>–untuk <a href="http://celotehwangi.wordpress.com/15haringeblogff/" target="_blank">#15HariNgeblogFF</a>, hari kelimabelas.</em></p>
<p>Kata mereka, dua kata itu terdengar indah kala jatuh berderai dari bibir orang terkasih.</p>
<p>Masih juga kata mereka, bisikan &#8216;aku cinta kamu&#8217; yang tertutur manis dari orang yang dicintai amatlah membuai hati.</p>
<p>Namun bagi Ranting, satu kalimat pendek itu terdengar kembar layaknya caci maki yang diumbar.</p>
<p>Dan masih juga bagi Ranting, &#8216;aku cinta kamu&#8217; seharmoni dengan muntahan kutuk &#8216;mati saja kau&#8217;.</p>
<p>Tapi, bisik Ranting, binar di matanya lah yang melantunkan dua kata itu, memandu hatiku untuk menari bersama.</p>
<p>Dan masih juga bisik Ranting, hangat kasihnya yang membalut setiap peluk lah yang menyenandungkan &#8216;aku cinta kamu&#8217; ke seluruh semesta akalku.</p>
<p>&#8212;-</p>
<p>&#8220;&#8230;yakin, Tom?&#8221;</p>
<p>Tombak mengangguk mantap.</p>
<p>&#8220;&#8230;tapi, Ranting kan..&#8221;</p>
<p>Tombak tidak mengubah keputusannya.</p>
<p>Tidak ada makhluk yang sempurna.</p>
<p>Ia tetap akan menikahi Ranting walau calon istrinya itu mengidap tuli permanen.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://somniamemorias.com/2012/01/26/menikahlah-denganku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sah!</title>
		<link>http://somniamemorias.com/2012/01/26/sah/</link>
		<comments>http://somniamemorias.com/2012/01/26/sah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jan 2012 11:11:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Melissa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Writings]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariNgeblogFF]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://somniamemorias.com/?p=1099</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: right;">–untuk <a href="http://celotehwangi.wordpress.com/15haringeblogff/" target="_blank">#15HariNgeblogFF</a>, hari kelimabelas.</p> <p>Selamat ya, Bu.</p> <p>Rencanamu mengikat dia dengan menggunakan aku ternyata berhasil, gumam janin di dalam rahim perempuan itu.</p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><em>–untuk <a href="http://celotehwangi.wordpress.com/15haringeblogff/" target="_blank">#15HariNgeblogFF</a>, hari kelimabelas.</em></p>
<p>Selamat ya, Bu.</p>
<p>Rencanamu mengikat dia dengan menggunakan aku ternyata berhasil, gumam janin di dalam rahim perempuan itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://somniamemorias.com/2012/01/26/sah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ini Bukan Judul Terakhir</title>
		<link>http://somniamemorias.com/2012/01/25/ini-bukan-judul-terakhir/</link>
		<comments>http://somniamemorias.com/2012/01/25/ini-bukan-judul-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Jan 2012 08:23:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Melissa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Writings]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariNgeblogFF]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://somniamemorias.com/?p=1084</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: right;">–untuk <a href="http://celotehwangi.wordpress.com/15haringeblogff/" target="_blank">#15HariNgeblogFF</a>, hari keempatbelas.</p> <p>&#8220;PASIR!! Kalau kamu terus berakting seperti sampah, saya bersumpah drama ini akan menjadi judul terakhir dalam karir kamu! Keluar kamu! SEKARANG!!&#8221; pekik Nyonya Semilir.</p> <p>Pasir terhenyak.</p> <p>Dengan ketakutan dan terisak-isak ia berlari menuju kamar ganti.</p> <p>Pasir akhirnya terduduk di depan cermin mejanya, menatap rias wajahnya yang luntur akibat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><em>–untuk <a href="http://celotehwangi.wordpress.com/15haringeblogff/" target="_blank">#15HariNgeblogFF</a>, hari keempatbelas.</em></p>
<p>&#8220;PASIR!! Kalau kamu terus berakting seperti sampah, saya bersumpah drama ini akan menjadi judul terakhir dalam karir kamu! Keluar kamu! SEKARANG!!&#8221; pekik Nyonya Semilir.</p>
<p>Pasir terhenyak.</p>
<p>Dengan ketakutan dan terisak-isak ia berlari menuju kamar ganti.</p>
<p>Pasir akhirnya terduduk di depan cermin mejanya, menatap rias wajahnya yang luntur akibat air mata.</p>
<p>Semua terasa begitu <em>absurd</em>.</p>
<p>Buih.</p>
<p>Dalam sekejap, aktris bau kencur itu merampas segalanya darinya.</p>
<p>Perhatian Nyonya Semilir, peran utama, bahkan sepasang mata teduh milik Ombak berhasil dipikat olehnya.</p>
<p>Aku bersumpah, drama ini bukan judul terakhirku. Buih harus kulenyapkan. Drama indah ini hanya milikku seorang, dan tidak boleh berakhir.</p>
<p><em>Kakak</em><em> yakin?</em></p>
<p>Pasir terkesiap.</p>
<p>Cermin di depannya tidak lagi memantulkan bayangannya, melainkan sosok anak perempuan kecil berbaju pelaut. Kepalanya tertunduk.</p>
<p><em>Aku bisa menolong Kakak</em><em> melenyapkan perempuan jalang itu</em><em>. Aku juga akan membantu </em><em>agar drama ini tidak pernah berakhir sebagai</em><em> judul terakhir Kakak.</em><em></em></p>
<p>Anak dalam cermin itu mendongakkan kepalanya. Matanya bolong.</p>
<p>Pasir ingin berteriak, namun jeritannya teredam oleh tawaran anak perempuan itu.</p>
<p>Anak itu tersenyum, memerlihatkan sederetan gigi runcing berwarna darah.</p>
<p><em>Goreskan jepit rambut ini di meja rias perempuan jalang itu</em><em>, lalu ucapkan: &#8220;Ini semua adalah milikku, dan tak boleh berakhir.”</em></p>
<p>Pasir mengambil jepit rambut hitam kecil yang terdorong keluar dari cermin di depannya.</p>
<p>Ia melangkahkan kakinya menuju meja rias Buih, bersiap melaksanakan perintah anak dalam cermin itu.</p>
<p>&#8220;Ini semua adalah milikku, dan tak boleh berakhir,” bisik Pasir.</p>
<p>Ia menorehkan satu goresan.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Keesokan harinya, Pasir mendapat kabar bahwa Buih mati kecelakaan.</p>
<p>Peran utama kembali ke pelukannya, perhatian Nyonya Semilir kembali terpusat kepadanya, tatapan mata teduh Ombak kembali menjadi miliknya.</p>
<p>&#8212;</p>
<p>Pasir tertawa puas. Segalanya sempurna. Semua telah menjadi kepunyaannya.</p>
<p>Drama ini tidak akan menjadi judul terakhirnya. Pasir tidak mengizinkan semua keindahan ini berakhir.</p>
<p><em>Ah, Kakak</em><em>. Drama ini tidak akan menjadi judul terakhir Kakak, </em><em>karena memang drama ini tidak akan pernah berakhir… seperti keinginan Kakak.</em></p>
<p>Pasir terbelalak.</p>
<p>Anak perempuan berbaju pelaut itu kembali muncul di cerminnya.</p>
<p><em>Semua sudah terlambat, Kak Pasir</em><em>.</em></p>
<p>Pasir lari keluar. Berusaha menghindari sosok anak bermata bolong itu.</p>
<p>&#8220;Ada apa, Pasir?&#8221;</p>
<p>Pasir terkejut.</p>
<p>Mendadak Buih muncul di sebelahnya. Menyapanya. Bersiap-siap berlatih peran utama yang seharusnya dilakoni Pasir. Dipuji oleh Nyonya Semilir yang baru saja memuja Pasir. Ditatap mesra oleh sepasang mata Ombak yang semestinya terkunci pada Pasir.</p>
<p>&#8220;PASIR!! Kalau kamu terus berakting seperti sampah, saya bersumpah drama ini akan menjadi judul terakhir dalam karir kamu! Keluar kamu! SEKARANG!!&#8221; pekik Nyonya Semilir.</p>
<p>Pasir terhenyak.</p>
<p>Dengan ketakutan dan terisak-isak ia berlari menuju kamar ganti.</p>
<p>Pasir akhirnya terduduk di depan cermin mejanya, menatap rias wajahnya yang luntur &#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;<em>dan seterusnya</em>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://somniamemorias.com/2012/01/25/ini-bukan-judul-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kalau Odol Lagi Jatuh Cinta</title>
		<link>http://somniamemorias.com/2012/01/24/kalau-odol-lagi-jatuh-cinta/</link>
		<comments>http://somniamemorias.com/2012/01/24/kalau-odol-lagi-jatuh-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 13:48:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Melissa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Writings]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariNgeblogFF]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://somniamemorias.com/?p=1076</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: right;">–untuk <a href="http://celotehwangi.wordpress.com/15haringeblogff/" target="_blank">#15HariNgeblogFF</a>, hari ketigabelas.</p> <p>Odol sedang merenung di dalam tube-nya.</p> <p>&#8220;Kalau gue lagi jatuh cinta&#8230;&#8221;</p> <p>Kalimatnya terputus.</p> <p>Tersentak mendengar kalimat Odol, Sikat Gigi memutuskan untuk mencuri<br /> dengar. Bulu-bulu sikatnya menegang.</p> <p>&#8220;Mungkin nggak sih gue jatuh cinta?&#8221;</p> <p>Sikat Gigi mulai mencondongkan batang tubuhnya yang berwarna merah jambu.</p> <p>&#8220;Hmm.. Mungkin apa nggaknya kan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><em>–untuk <a href="http://celotehwangi.wordpress.com/15haringeblogff/" target="_blank">#15HariNgeblogFF</a>, hari ketigabelas.</em></p>
<p>Odol sedang merenung di dalam tube-nya.</p>
<p>&#8220;Kalau gue lagi jatuh cinta&#8230;&#8221;</p>
<p>Kalimatnya terputus.</p>
<p>Tersentak mendengar kalimat Odol, Sikat Gigi memutuskan untuk mencuri<br />
dengar. Bulu-bulu sikatnya menegang.</p>
<p>&#8220;Mungkin nggak sih gue jatuh cinta?&#8221;</p>
<p>Sikat Gigi mulai mencondongkan batang tubuhnya yang berwarna merah jambu.</p>
<p>&#8220;Hmm.. Mungkin apa nggaknya kan tergantung gue jatuh cinta sama apa kan, ya?&#8221;</p>
<p>Sikat Gigi manggut-manggut. Hatinya mulai kalut.</p>
<p>&#8220;Mungkin nggak ya gue jatuh cinta sama Si Seri? Dia sih oke banget, barisan depan pastinya harus eksis dong. Putih, mulus, wuih. Tapi <em>high maintenance</em> cuy! Lagipula Seri kan udah jadian sama Taring. Beling aja ancur ama dia, apalagi gue! <em>Nope. Bad idea.</em>&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalo Lidah.. males ah. Tukang main. Hobinya mbelit sana sini. Waktu itu sama Geraham, ngakunya sih suka sama yang dewasa gitu. Sabar, rendah hati, nggak mau mencolok. Eh taunya kepincut juga sama si Pipi. Alasannya, Pipi itu lucu, <em>chubby</em>, tipenya dia banget deh. Tapi sekarang? Malah klepek-klepek gara-gara Bibir, makhluk paling seksi seantero mulut.&#8221;</p>
<p>Tanpa sadar, pangkal leher Sikat Gigi yang bertipe fleksibel itu mulai tertekuk.</p>
<p>&#8220;Mmm.. Lidah Kecil.. manis sih. Imut gitu. Tapi males ah. Jauh banget, ngga kenal.&#8221;</p>
<p>Oh&#8230; jadi dia sukanya sama yang cantik seksi gitu ya. Wajar sih, dia kan keren<br />
banget.. Warnanya gradasi biru laut dan biru langit, aromanya segar, tubuhnya<br />
halus, disayangi para Gigi&#8230; Sikat Gigi mana sih yang ngga bakal naksir sama <em>high quality</em> Odol kayak dia?</p>
<p>Sikat Gigi mulai pusing, terpuntir dalam kalimatnya sendiri.</p>
<p>&#8220;&#8230;lagipula&#8230; Sikat Gigi.. dari dulu&#8230;&#8221;</p>
<p>Eh?</p>
<p>Tunggu.</p>
<p>Odol ngomongin aku?</p>
<p>Bulu-bulu sikatnya mendadak kaku.</p>
<p>&#8220;&#8230;gue&#8230;&#8221;</p>
<p><em>BRAK!</em></p>
<p>Pemilik mereka mendadak masuk, bersiap mempertemukan mereka.</p>
<p>Bulu-bulu Sikat Gigi meremang.</p>
<p>&#8220;Mungkin nggak sih ada Odol yang nggak jatuh cinta sama Sikat Gigi yang satu ini? Setia, nggak rewel, tahan banting, malu-malu manis, warnanya <em>hot pink</em>, lembut&#8230;&#8221;</p>
<p>Kata-kata Odol yang semakin nyaring nyaris membuat Sikat Gigi mencabuti bulu-bulunya sendiri.</p>
<p>&#8220;Nah, kalau gue jatuh cinta sama yang ini&#8230; kira-kira dia jatuh cinta juga nggak ya sama gue?&#8221;</p>
<p>Manusia itu membuka tutup Odol (yang sedang tersenyum lebar), menempelkannya ke Sikat Gigi (yang sedang tersenyum sumringah) lalu mulai membersihkan rongga mulutnya (yang sedang bergembira menyambut sang pasangan baru).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://somniamemorias.com/2012/01/24/kalau-odol-lagi-jatuh-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merindukanmu Itu Seru</title>
		<link>http://somniamemorias.com/2012/01/23/merindukanmu-itu-seru/</link>
		<comments>http://somniamemorias.com/2012/01/23/merindukanmu-itu-seru/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 22 Jan 2012 17:24:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Melissa</dc:creator>
				<category><![CDATA[Writings]]></category>
		<category><![CDATA[#15HariNgeblogFF]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[indonesian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://somniamemorias.com/?p=1063</guid>
		<description><![CDATA[<p style="text-align: right;">&#8211;untuk <a href="http://celotehwangi.wordpress.com/15haringeblogff/" target="_blank">#15HariNgeblogFF</a>, hari keduabelas.</p> <p>Kamu tahu kenapa aku menyukai hari Senin?</p> <p>Karena hanya di hari ini aku selalu menerima kartu pos darimu.</p> <p>Pak Pos, sang pengantar setia puluhan kartu pos itu, akhirnya mulai tak rela hanya menjadi saksi bisu.</p> <p>&#8220;Seru-seru banget ya kayaknya,&#8221; komentarnya sambil tertawa.</p> <p>Aku pun balas tertawa. Tawa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: right;"><em>&#8211;untuk <a href="http://celotehwangi.wordpress.com/15haringeblogff/" target="_blank">#15HariNgeblogFF</a>, hari keduabelas.</em></p>
<p>Kamu tahu kenapa aku menyukai hari Senin?</p>
<p>Karena hanya di hari ini aku selalu menerima kartu pos darimu.</p>
<p>Pak Pos, sang pengantar setia puluhan kartu pos itu, akhirnya mulai tak rela hanya menjadi saksi bisu.</p>
<p>&#8220;Seru-seru banget ya kayaknya,&#8221; komentarnya sambil tertawa.</p>
<p>Aku pun balas tertawa. Tawa yang dilapisi selaput lengket berlabel rindu.</p>
<p>Kali ini kamu mengirimiku foto <em>skydiving</em>.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Skydiving" src="http://i.imgur.com/6UBYv.jpg" alt="" width="378" height="252" /></p>
<p>Minggu lalu, <em>bungee jumping</em>.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Bungee Jumping" src="http://i.imgur.com/hA9W0.jpg" alt="" width="385" height="210" /></p>
<p>Dua minggu lalu, <em>paragliding</em>.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Paragliding" src="http://i.imgur.com/EiFKD.jpg" alt="" width="371" height="246" /></p>
<p>Bulan lalu, <em>BASE jumping</em>.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="BASE Jumping" src="http://i.imgur.com/eKzg0.jpg" alt="" width="355" height="267" /></p>
<p>Tahun lalu, <em>roller coaster</em>.</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" title="Roller Coaster" src="http://i.imgur.com/NwHre.jpg" alt="" width="350" height="233" /></p>
<p>Tapi Senin kali ini berbeda.</p>
<p>Tak ada Pak Pos. Tak ada kartu pos.</p>
<p>Tapi ada kamu.</p>
<p>Aku tahu, seharusnya aku menyambutmu dengan pelukan dan kecupan, tapi yang tersembur dari mulutku ketika melihatmu adalah,</p>
<p>&#8220;Kamu ternyata punya hobi olahraga ekstrim ya?&#8221;</p>
<p>Tawamu menyejukkan gendang telingaku.</p>
<p>&#8220;Seru kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Masak sih?&#8221; tanyaku sambil memelukmu.</p>
<p>&#8220;Beneran! Serunya sama kayak waktu lagi kangen sama kamu,&#8221; bisikmu sambil mengecup lembut pipiku.</p>
<p>&#8212;</p>
<p><em>Jadi pengen main bungee jumping lagi..</em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://somniamemorias.com/2012/01/23/merindukanmu-itu-seru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

