Minahasa. Berpuluh-puluh tahun silam.

Baju putihku ditarik oleh seorang anak laki-laki kecil bercelana kotak-kotak gelap seperti motif gorden di rumahnya. Ibunya penjahit. Itu saja yang aku tahu. Oh, kue taart buatannya selalu sedap.

Aku menjerit. Aku hanya mampu bersembunyi sekitar empat puluh detik di balik pintu garasi yang penuh dengan sepeda tua ini.

Ia tertawa kencang. Berlari mengelilingi rumah kecil di gang sempit tempat kami bermain. Berlari mencari teman-teman kami yang lain. Berlari di depanku yang tak bisa menggapainya hingga sekarang.

Apa kabarmu?

Dua potong kata itu selalu bersemayam di paru-paruku dan terus kehembuskan di setiap celah di antara  napasku. Aku percaya kita masih menghisap udara yang sama.

Kau menjadi bunga tidurku, memang. Aku punya taman pribadi berisi dirimu. Wajahmu memenuhi setiap sudutnya. Tersenyum, tergelak, merengut, melamun. Lengkung bibirmu seperti bulan sabit yang bersudut sempurna. Garis tawamu hilang timbul bagaikan ombak memeluk pantai. Alismu seperti ulat yang merayap di daun-daun taman mimpiku. Matamu, aku lupa. Aku tidak pernah ingat warna matamu. Cokelat? Atau hitam kelam?

Tapi senyummu tak selamanya manis. Tak selalu lugu seperti kulihat dirimu bertahun-tahun silam. Bibirmu kadang melekuk curam bagaikan terlepas dari otot wajahmu. Garis wajahmu begitu dalam dan tajam, mengoyak rupa dirimu. Alismu memanjang dan mengernyit seperti ular bengis. Matamu, dua lubang hitam yang bolong.

Aku menjerit. Aku hanya mampu mencarimu selama waktu yang kupunya untuk empat puluh kali helaan napas.

Kamu berteriak kencang. Berlari mengelilingi rumah kecil di gang sempit tempat kami bermain. Berlari mencari kami semua. Berlari di belakangku yang tak bisa menolongmu hingga sekarang.

Baju putihku ditarik oleh seorang anak laki-laki kecil bercelana kotak-kotak gelap, seperti motif gorden di rumahnya. Ibunya penjahit. Itu saja yang aku tahu. Oh, kue taart buatannya selalu sedap.

Dulu, hanya itu yang aku tahu. Ibunya penjahit. Dengan seribu jarum berujung bulat warna-warni. Kue taartnya yang selalu sedap. Dengan puluhan pisau panjang terasah tajam.

Baju putihku ditarik oleh seorang anak laki-laki kecil bercelana kotak-kotak gelap, seperti motif gorden di rumahnya. Ibunya penjahit, dengan maha karya terakhir berupa ribuan jarum berujung bulat warna-warni yang menghujam sekujur tubuh anak laki-laki kecil bercelana kotak-kotak gelap seperti motif gorden di rumahnya itu. Kue taart buatannya yang selalu sedap itu memiliki warna sama persis seperti kedua biji mata yang tergeletak di sebelah anak laki-laki kecil bercelana kotak-kotak gelap seperti motif gorden di rumahnya itu. Cokelat.

Aku menjerit.

Tagged with:
 

2 Responses to Anak Laki-laki Kecil Bercelana Kotak-kotak Gelap Seperti Motif Gorden Di Rumahnya

  1. Abrams says:

    Nice prose!! Meski hanya menggambarkan beberapa tokoh tp cukup mengesankan susunan katanya. pemanggilan memori masa lalu dengan bahasa yg sempurna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>